Newsroom / Berita

Stop ODOL

S

Super Admin

Penulis

Terbit

24 Feb 2026

Waktu Baca

2 Menit

Stop ODOL

Matahari siang membakar aspal jalan arteri. Di balik kemudi truk usangnya, keringat dingin sebesar biji jagung menetes di dahi Karyo. Di belakangnya, tumpukan karung menjulang tinggi, diikat paksa dengan tali tambang dan ditutup terpal kuning yang tampak kewalahan menahan volume muatan. Muatan itu dua kali lipat dari kapasitas maksimal gardan truknya.

"Bawa semua dalam satu ritase, atau uang jalan saya potong," begitu ancaman bos pemilik ekspedisi tadi pagi.

Truk bernomor polisi luar daerah itu merayap dengan kecepatan hanya 20 km/jam. Setiap kali roda tuanya menghantam jalanan yang tidak rata, terdengar decit per besi yang menyayat hati. Mesin menderu kasar, dipaksa menarik beban yang tak seharusnya ia tanggung. Di belakang dan samping truk, para pengendara sepeda motor dan mobil kecil menjaga jarak jauh-jauh. Mereka tahu persis: kendaraan ODOL (Over Dimension Over Load) seperti ini adalah bom waktu. Sekali rem blong atau as roda patah, maut siap menjemput siapa saja yang berada di dekatnya.

Karyo melirik spion spionnya. Ia bisa melihat aspal di belakang roda gandanya meninggalkan jejak amblas. Jalanan yang dibangun menggunakan uang pajak rakyat itu perlahan hancur, retak, dan bergelombang hanya demi menekan biaya logistik satu perusahaan. Karyo tahu keselamatan dirinya dan pengguna jalan lain sedang dipertaruhkan, tapi di tengah sistem logistik yang mencekik supir kecil, ia merasa tak punya pilihan selain terus menginjak pedal gas.

Bagikan Artikel