Pagi itu halaman Terminal Ir. Soekarno Klaten tampak berbeda. Bukan hanya bus yang datang dan pergi, tetapi juga rombongan anak-anak kecil berseragam hijau kuning yang turun dari kendaraan dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Mereka berbaris rapi sambil memegang botol minum. Mata mereka bergerak ke segala arah. Bus besar dengan warna mencolok membuat beberapa anak berseru kagum. Suara mesin, peluit petugas, dan pengumuman dari pengeras suara terdengar seperti petualangan baru bagi mereka.
Seorang petugas terminal menyapa ramah dan mengajak mereka mendekat ke salah satu bus yang sedang parkir. Anak-anak mendongak melihat tinggi badan bus yang jauh melebihi tubuh kecil mereka. Ada yang menempelkan tangan ke badan bus, seolah memastikan benda besar itu benar-benar nyata.
Ketika diizinkan naik sebentar, kegembiraan langsung meledak. Mereka duduk di kursi penumpang sambil tertawa. Beberapa berpura-pura melihat ke luar jendela seperti sedang bepergian jauh. Seorang anak melambaikan tangan ke teman di bawah, seakan bus itu benar-benar akan berangkat.
Di halaman, mereka juga diajak melakukan gerakan senam sederhana. Tangan terangkat, kaki melangkah kecil, dan tawa memenuhi udara terminal. Para guru ikut bergerak sambil tersenyum melihat semangat anak-anak yang tak pernah habis.
Saat waktu istirahat tiba, mereka duduk bersama di lantai yang teduh. Bekal dibuka. Ada roti, buah, dan camilan kecil. Beberapa anak saling bertukar makanan sambil bercanda. Kebahagiaan sederhana terlihat dari mata yang berbinar dan senyum yang tidak lepas.
Sebelum pulang, mereka berfoto bersama dengan latar belakang bus besar. Tangan kecil melambai ke arah kamera. Wajah-wajah polos itu menyimpan kenangan baru tentang tempat yang sebelumnya hanya mereka lihat dari jalan.
Hari itu, Terminal Ir. Soekarno Klaten bukan sekadar tempat naik turun penumpang. Bagi mereka, tempat itu menjadi ruang penuh tawa, rasa kagum, dan kebahagiaan yang akan mereka ceritakan berulang kali di rumah nanti.